RSS

Aku, Dia Karena Tekhnologi Part 1

20 Des

Cerita ini diawali saat saya di duduk di kelas 2 SMA, aku bukanlah pelajar yang sangat pintar. Tapi entah mengapa para guru di sekolahku memposisikan diriku untuk masuk ke dalam kelas jurusan IPA. Tepatnya aku ditempatkan di kelas 2 IPA1, kelas ini merupakan kelas unggulan di sekolahku, bahkan kelas ini sudah menjadi kelas unggulan di daerahku. Aku bersekolah di sekolah swasta Kristen yang merupakan sekolah terbaik dan terfavorit di daerahku. Hal ini dikarenakan tidak semua orang dapat bersekolah di sekolah ini, selain sekolahan ini menggunakan jalur tes yang sangat sulit serta mahalnya biaya untuk masuk ke sekolah ini. Maklum saja jika mayoritas pelajar di sekolah ini adalah kaum tionghoa.

Aku hanya seorang remaja yang hidup di kota metropolitan, layaknya seorang remaja pada umuranku, saat itu emosinya masih tak terkendali. Aku adalah orang yang mudah bergaul, karena dapat bergaul dengan siapa saja tanpa melihat adanya perbedaan status yang biasanya digunakan orang di dalam memilih teman untuk bergaul. Selepas sekolah selalu aku gunakan untuk nongkrong dengan teman-temanku. Tempat nongkrong kami pun tidak tentu dan biasanya kami tidak pernah memiliki tempat tujuan untuk nongkrong. Aku dan teman-temanku bisa nongkrong di mana saja, bisa di sekitar sekolah dengan bermain futsal atau pun bermain basket. Namun tak jarang kami habiskan waktu di tempat hiburan malam seperti di diskotik atau night club, bahkan kami sudah biasa menghabiskan waktu dengan menggunakan kendaraan (motor atau pun mobil) dari malam sampai pagi hari hanya untuk menghabiskan waktu. Hal yang satu ini, biasanya kami menggunakan istilah touring (tour keliling).

Di suatu malam aku berkenalan dengan seorang wanita di salah satu night club terbesar di kotaku. Night club tersebut sering kami jadikan tempat dugem dan nongkrong layaknya anak muda metropolis. Wanita itu bernama Ayu sepadan dengan parasnya yang cantik dan sesuai dengan tubuhnya yang indah di tambah aroma farfum yang cocok dengan dirinya. “Inikah yang disebut cinta pada pandangan pertama? Dari mata kemudian turun ke hati?”, Pikirku. Aku dan Ayu bertukar nomor telpon, sehingga semua itu diawali dari seringnya kita berkomunikasi dengan menggunakan pesan singkat atau pun melalui telpon. Berawal dari itulah kami sering jalan bareng, terkadang menghabiskan waktu akhir minggu bersama dengan teman-temanku atau pun dengan teman-teman dari Ayu sendiri.

Aku pun sudah sering membawa Ayu ke rumahku dan memperkenalkannya ke seluruh keluargaku (ya..itu pun jika orang tuaku sempat ada di rumah). Aku sendiri juga telah mengenal keluarga dari Ayu. Aku dan Ayu sering menghabiskan waktu di wilayah Puncak, Jawa Barat di sebuah villa milikku. Terkadang aku hanya berdua dengan Ayu, namun tak jarang teman-teman kami pun ikut hanya untuk mengganggu hubungan kami berdua.

Sejalan dengan waktu…aku mengetahui lebih dalam mengenai diri Ayu. Tetapi ternyata namanya tak seindah kepribadiannya (pikirku)…tiga bulan lebih aku dan dia menjalin kasih. Hingga pada suatu hari Ayu memutuskan untuk putus dan pergi meninggalkanku, dengan alasan yang tak dapat ku terima.

“Aku harus tinggal bersama keluargaku di sana dan aku rasa kita tak bisa bersama lagi.”, Kata Ayu padaku. Itulah alasan yang hanya bisa ku tangkap darinya. Ayu terpaksa harus pindah ke Jepang dan tinggal bersama orang tuanya di sana. Ayah Ayu mendapatkan jabatan sebagai General Manejer di sebuah perusahaan tekhnologi ternama di negara itu.

Aku merasakan suatu hal yang tak pernah aku bayangkan bahkan hal ini tak pernah aku pikirkan.
”Sebelum kau lihat hatiku, lihatlah dahulu hatimu…Apa ini semua untuk ke-egoisanmu pribadi? Tak dapatkah kita pacaran jarak jauh?”, Tanyaku padanya.
“Sudah diam…!!! Aku sudah bosan.”, Ujar Ayu dengan datar, sembari dia pergi meninggalkanku seorang diri. Aku dapat melihat air mata yang diteteskan Ayu sewaktu pergi meninggalkanku.

Satu bulan sudah aku berpisah dari Ayu…hati ini terasa hampa. Sudah terlalu banyak kenangan yang aku dapatkan dan sudah terlalu penat otakku menyimpan kenangan indah bersamanya. Berbagai cara telah di tempuh oleh teman-temanku guna mengembalikan keceriaanku, berbagai cara telah dilakukan oleh keluargaku untuk mengembalikan senyumku yang telah hilang. Namun hal itu tak berarti bagiku. Beberapa teman mencoba mencoba mencarikanku pengganti dirinya itu. Akan tetapi aku tak pernah mau membuka pintu hatiku secepat itu….

Iklan
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 20, 2010 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: