RSS

Aku, Dia Karena Tekhnologi Part 2

21 Des

………….Akan tetapi aku tak pernah mau membuka pintu hatiku secepat itu….(Part 1)

Sampai di penghujung tahun tepatnya di bulan Desember, keluargaku memaksaku untuk berlibur ke luar kota di tempat saudara. Aku sebenarnya tidak ingin pergi ke sana…ya karena desakan dari ke dua orang tuaku yang telah menyisihkan waktu dari kesibukan mereka bekerja. Maklum saja orang tuaku jarang berada di rumah, bahkan untuk berada di dalam negeri pun sangat jarang. Aku sempat berpikir,“Apakah mereka hanya hidup untuk kerja?” Andai saja aku bukan anak tunggal, tentunya aku akan memiliki teman sekandung sebagai tempat curhat. Bahkan tentu saja saudaraku tersebut akan merasakan hal yang sama denganku. Aku juga pernah berkata di dalam hatiku.”Bahwa aku hidup bukan hanya dengan materi yang telah disebarkan oleh kedua orang tuaku.”

Sore hari dengan menggunakan dalah satu mobil kami berangkat ke tempat saudaraku yang terletak di daerah dataran tinggi, karena memang kediaman saudaraku tersebut terletak di bawah kaki Gunung Merbabu. Ke esokan paginya kami sampai di tempat saudaraku, kami sekeluarga di sambut dengan hangat…maklum saja kami sudah lama tidak pernah berkunjung ke sana. Kami langsung dipersilahkan masuk dan disuruh untuk menuju kamar. Aku diberikan kamar yang terpisah dengan orang tuaku.

Aku langsung masuk ke dalam kamar dan segera menata barang bawaanku di kamar itu. Aku pun menyempatkan diri untuk membersihkan diri atau mandi setelah aku menata barang-barangku tersebut. Setelah itu aku langsung kembali ke kamar dan terlelap di dalam tidurku. Mungkin ini akibat dari efek menyetir mobil yang terlalu lama dengan jarak tempuh sekitar 250 Km….

Aku terbangun di siang harinya dengan perut yang terasa lapar dan aku segera menuju ke meja makan untuk mencari makanan sebagai pelampiasan rasa laparku ini. Namun sangat disayangkan aku telah melewati jam makan siang, sehingga tak ada makanan yang tertinggal di meja makan tersebut. Ah…sialnya aku…sudah capek badanku dan perutku pun tak diisi. Aku tak kehilangan akal, aku kemudian membuka kulkas yang berada tak jauh dari meja makan tersebut. Untungnya masih ada buah dan beberapa potong puding di dalamnya….

Samar-samar ku dengar telpon gengamku yang ku tinggal di kamar berbunyi, di saat aku sedang menyantap sepotong puding….
“Ah….nanti saja ku lihat pesan itu,” pikirku.
Aku langsung bergegas ke kamar setelah puding ini ku habiskan. Ku buka dan ku baca sms yang masuk ke pesanku itu…..
“Hai Ani kumaha damang?”, bunyi pesan singkat itu.

Ternyata itu merupakan pesan singkat nyasar yang masuk ke dalam pesan masuk di nomorku.
“Maaf, anda salah mengirim pesan, saya bukan Ani.”, Aku membalas pesan tersebut, karena aku khawatir mungkin saja yang mengirimkan pesan tersebut sedang ada perlu.
Orang tersebut membalasnya,“Oh…ya…maaf mungkin saya salah nomor.”
Tapi entah mengapa di luar dari kesadaranku aku mengirimkan pesan melalui telpon genggamku ke orang tersebut. ”Oh ya…’ga pa pa.”

Beberapa menit kemudian telpon genggamku berbunyi lagi dan kembali orang itu mengirimkan pesan padaku dengan pesan yang sama.
Aku pun membalas pesan singkat tersebut,”Maaf mas saya bukan Ani.!”
Telepon genggamku berbunyi, kali ini dengan nada yang berbeda yaitu nada dering memanggil. Aku tak mengenal nomor tersebut…. Sesuai kebiasaanku, aku tak akan mengangkat telpon tersebut. Berulang kali nomor tersebut mencoba menghubungiku. Akhirnya aku pun mengangkat telpon tersebut. “Mungkin saja dia masih tidak percaya hanya dengan melalui pesan singkat yang ku kirimkan.”, Pikirku

Ternyata terdengar suara seorang wanita, suara tersebut sangat lembut dan sangat merdu. Wanita tersebut masih tidak percaya, bahwa nomor telpon yang aku bukan milik temannya. Akhirnya wanita ini dapat menerimanya setelah aku menjelaskan kepada dirinya. Setelah telpon itu ditutupnya……dia mengirimkan pesan singkat kepadaku.

Entah setan apa yang merasukiku…aku membalas pesan singkatnya kembali…sampai aku tersadar aku dan dia semakin menjadi akrab. Awalnya aku tak mengenal dirinya dan dia pun tidak mengenal aku. Bermula dari mengenal dirinya….

”Namaku Susan, kamu siapa?”, Wanita itu mulai memperkenalkan dirinya melalui pesan singkat.
“Namaku Andi”, Balasan pesan singkat kepadanya. Hanya melalui telpon genggam aku dan Susan sering curhat mengenai kaseharian kami. Dapat di katakan, bahwa kami berdua tidak dapat terpisahkan dari telepon genggam yang kami miliki.

Pada mulanya aku memposisikan diriku sebagai sosok yang lebih dewasa, sehingga dapat dikatakan, bahwa Susan lebih sering curhat kepadaku. Karena aku adalah orang yang mudah bergaul, serta selalu dapat memberikan solusi dari problematika-problematika yang dialaminya, karena sikapku tersebut dia kemudian mengangkat aku sebagai kakak angkatnya. Maklum saja Susan merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Hal tersebut aku ketahui dari ceritanya padaku, meskipun hanya melalui telpon genggam yang kami miliki. Semakin hari kami kian dekat, sehingga meskipun hanya melalui telpon genggam Susan dapat mengetahui rutinitas keseharianku, bahkan dia juga mengetahui seluruh sahabatku. Ya…aku pun juga mendapatkan hal yang sama seperti yang dia dapatkan.

Telpon genggam yang kami miliki hanya berfungsi mengirimkan pesan singkat dan menelpon saja, sehingga aku dan dia belum mengetahui penampilan fisik masing-masing. Pernah suatu ketika Susan marah kepadaku, karena aku membohonginya, namun hal ini aku ketahui melalui sahabatnya. Entah mengapa Susan tak langsung jujur padaku akan hal ini. “Kamu marah sama aa, a minta maaf ya…?”, Aku menelpon dirinya untuk mendapatkan maaf darinya.
“Marah kenapa? A khan cuma kakak angkat…jadi kalau a mau berbuat sesuatu ya terserah a.”, Balasnya padaku

Dari sahabatnya aku mengetahui kalau Susan suka dan sayang padaku. Mengetahui hal tersebut aku hanya bisa tersenyum sendiri dan aku memberanikan diri untuk memintanya mengisi kekosongan hatiku ini. Maklum saja karena aku layaknya laki-laki normal yang baru saja ditinggal belahan jiwaku. Aku tak menduga kami berdua dapat berpacaran, hal ini bisa dimaklumi karena kami belum pernah bertemu dan mengenal seperti apa karakter masing-masing sesungguhnya.

Di dalam proses berpacaran jarak jauh ini memang tidak selalu berjalan mulus, yang selalu kami pegang adalah rasa percaya dan kepercayaan. Namun hal inilah yang selalu menjadi kendala bila kami mengalami pertengkaran. Dalam proses berpacaran inilah aku perlahan mengetahui keadaan Susan yang sebenarnya. Secara perlahan dia jujur kepadaku. Sebuah pesan singkat aku terima dan tak pernah aku bayangkan….isinya adalah kabar yang tak terlalu bagus bagiku. “Syg…aku sebenarnya memiliki suatu penyakit yang sangat menyiksa, yaitu polip atau gangguan pada saluran pernapasan. Syg kamu masih mau menjadi pacarku? Aku ‘ga mau menyiksamu dengan penyakitku ini” Pesan singkat yang kudapatkan dari dirinya.

Namun aku tak memperdulikannya,“Ya…aku syg kamu apa adanya, meskipun kita saat ini belum pernah bertemu, karena Manusia bukanlah makhluk yang tercipta dengan kesempurnaan, sehingga harus saling melengkapi. Mungkin takdir-Nya menciptakan aku untuk melengkapi kekuranganmu itu.”, Balasku.

Awalnya beberapa menit aku tunggu dan hampir dua jam aku menunggu balasan pesan singkat atau telpon dari Susan. Namun hal itu tak kunjung datang. “Ada apa ini….? Apa yang sedang terjadi…?”, Pikirku.

mendapatkan maaf darinya.

“Marah kenapa? A khan Cuma kakak angkat…jadi kalau a mau berbuat sesuatu ya terserah a.”, Balasnya padaku

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 21, 2010 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: