RSS

Bangsa Tertatih Gara-gara Investor Asing…..(Penyakit…)

29 Jul

Perang Dunia (PD) II tahun 1939 hingga 1945 yang melibatkan Amerika Serikat dan Jepang, serta negara-negara di kawasan Eropa Timur membuat dampak pada sektor ekonomi, politik maupun sosial. Sektor ekonomi mengalami kerugian karena sebagian besar dana digunakan untuk membiayai perang. Akibatnya, banyak negara perlu memperbaiki sektor ini dengan pertimbangan kontinuitas perekonomian negara.

Para pelaku PD II menciptakan lembaga ekonomi antarnegara seperti International Monetary Fund (IMF), World Trade Organization (WTO) dan Bank Dunia di bawah naungan Perserikatan Bangsa-bangsa, untuk menyimpan sisa dana yang digunakan saat PD II. Akan tetapi, dana tersebut tidak mungkin digunakan untuk memperbaiki perekonomian negara, karena di negara-negara pelaku PD II telah tersebar ”zat-zat kimia”. Pembangunan perekonomian di wilayah negara pelaku PD II sangat sulit diupayakan. Hal ini mengakibatkan negara-negara yang tidak turut serta dalam PD II akhirnya dilirik untuk investasi atau penanaman modal. Asumsi negara yang dilirik bebas dari bahaya ”zat kimia” akibat PD II.

Pada tahun 1945, Indonesia yang sedang melakukan pembenahan diri di awal kemerdekaannya, merupakan daerah strategis untuk dituju oleh negara pelaku PD II sebagai tempat investasi. Negara pelaku PD II melirik Indonesia karena memiliki karakteristik tanah yang cukup subur serta dipastikan memerlukan biaya untuk menata wilayah negaranya pada saat kemerdekaannya. Namun, keinginan permodalan dari para investor asing ditolak secara tegas oleh Presiden Soekarno, dalam inti pidatonya “Go To Hell With Your Aid’s”, yang kemudian kata-kata tersebut membuat para investor asing marah. Soekarno percaya rakyat Indonesia dapat berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) tanpa adanya campur tangan negara lain. Ia juga percaya bahwa rakyat mampu mengelola negara Indonesia yang subur serta kaya akan sumber daya alam.

Selanjutnya, masa kepemimpinan Muhammad Soeharto. Pada awalnya, Soeharto lebih dikenal sebagai seorang perwira Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Namun karena ketekunan dan kecerdikannya, Soeharto berhasil memperoleh jabatan jenderal di kemiliteran Indonesia.

Perlu diketahui, Soeharto sempat mengenyam pendidikan militer di luar negeri, tepatnya di daerah milik pelaku PD II, yaitu lembaga militer Central Intelligence Agency (CIA) milik AS. Pendidikan yang diperoleh Soeharto bukanlah sekadar pendidikan militer saja, tetapi juga pendidikan politik dari kaum investor asing yang pernah dipermalukan Soekarno.
Letnan Jenderal Soeharto telah berhasil dibujuk atau diintimidasi oleh para investor asing dan mendapatkan dukungan yang besar dari mereka untuk menyingkirkan Presiden Soekarno. Singkat cerita, Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno, menjadi awal rezim Orde Baru di bawah kepimimpinan presiden yang baru, Soeharto.

Pada masa Orde Baru terjadi pembangunan besar-besaran di berbagai sektor yang khususnya terkonsentrasi di Pulau Jawa. Ini karena Soeharto membuka pintu bagi para investor asing untuk masuk.
Saat ini Indonesia menjadi negara yang memiliki ketergantungan kepada investor asing dengan perubahan konsep negara yang berdikari menjadi konsep developmentarisme. Investasi atau modal asing yang masuk ke Indonesia jumlahnya sangat besar. Namun, apakah jumlah investasi tersebut diperuntukkan untuk pembangunan semata? Apakah masyarakat Indonesia merasakan implikasi dari investasi tersebut? Investor asing telah mematahkan harapan Soekarno yaitu berdikari.

Investasi masuk ke Indonesia guna pembangunan infrastruktur memang sangat besar, tetapi pembangunan tersebut tidak disertai dengan penataan wilayah yang baik. Pembangunan infrasturktur berupa gedung-gedung bertingkat misalnya, apakah pembangunan itu memerhatikan keadaan masyarakat sekitarnya? Berapa banyak jumlah masyarakat yang telah tergusur akibat pembangunan tersebut?

Investor asing dapat dengan mudah menanam investasi di Indonesia karena adanya perlindungan, yaitu dengan disahkannya Undang-undang (UU) Penanaman Modal Asing. Adanya kemudahan dan jaminan keamanan dalam UU tersebut, dengan menyebabkan para investor asing dengan mudahnya mengeruk sumber daya alam bangsa Indonesia. Pemasukan negara yang lebih besar dapat mengalir ke luar negeri atau mengalir ke tangan para investor asing. Apa bedanya hal ini dengan perampokan setelah kita diminumkan obat tidur?

Eksploitasi, ekspansi serta akumulasi modal secara besar-besaran yang dilakukan oleh para investor asing menciptakan suatu sistem perekonomian kapitalis. Kapitalisme menurut pandangan Adam Smith dapat dilihat dari Revolusi Perancis dengan semboyan Liberte, egalite, gartelite. Jika di tempat asal para investor asing sudah tidak terdapat bahan baku, mereka bebas untuk mencari bahan baku sebanyak-banyaknya dari bangsa lain. Selain itu mereka juga bebas untuk memperluas wilayahnya, serta mengumpulkan modal.

Semakin mudahnya perekonomian kapitalis tersebut masuk ke Indonesia karena adanya lembaga-lembaga pendonor modal seperti IMF, WTO dan Bank Dunia, yang secara halus memberi pinjaman modal untuk negara-negara yang sedang berkembang, tetapi dengan syarat negara tersebut harus membuka diri terhadap kebijakan bersifat kapitalisme.
Penjajahan model baru dengan siasat peminjaman modal inilah yang sudah diterapkan bahkan dilakukan oleh “perserikatan kapitalis”. Bagi negara yang menolak menganut model tersebut tidak akan bisa mendapatkan modal atau pinjaman permodalan, bahkan akan mendapatkan kesulitan dalam menjalankan perekonomian negara seperti dipersulit melakukan ekspor produksinya.

Apakah kita menyadari bahwa negara kita saat ini sudah menjadi korban? Utang yang terus bertambah, tetapi sumber daya yang akan kita gunakan guna membayar utang tersebut terus-menerus diserap bahkan dieksploitasi oleh kaum pemodal atau kapitalis tersebut. Negara kapitalis seperti AS saat ini berhasil melakukan ekspansi, mengeksploitasi bahkan mengakumulasi modal dengan menggunakan PT Freeport Indonesia di tanah Papua. Perancis melalui pasar swalayan modern Carrefour mematikan pasar tradisional dengan memperluas cabang dan menguasai konsumen masyarakat Indonesia yang keuntungannya hanya untuk kepentingannya sendiri dan masih banyak lagi kapitalis lain yang menguasai sumber daya alam Indonesia. Lalu kapan anak cucu kita bisa berdikari?
Wah…mau dibawa kemana ya…?

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 29, 2011 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s